Warga di wilayah Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, saat ini tengah waswas dengan semakin meningkatnya suhu pertikaian antara Indonesia-Malaysia dalam beberapa pekan terakhir. Ini menyusul aksi pelanggaran wilayah yang dilakukan kapal perang Tentara Diraja Malaysia, ke wilayah Indonesia di perairan Ambalat. Ini karena kebutuhan hidup sehari-hari warga Sebatik dipasok dari Malaysia. Khususnya dari Kota Tawau, yang berada di Negara Bagian Sabah Malaysia, yang berjarak satu jam perjalanan. Segala kebutuhan yang terkait Sembako mereka dapatkan dari Malaysia. Sebaliknya, kebutuhan hasil pertanian yang dihasilkan warga Sebatik sebagian besar dijual ke Tawau. Mereka tidak menjual ke Tarakan, Kalimantan Timur, karena jaraknya cukup jauh, yakni sekitar tiga jam perjalanan dengan perahu motor. Ongkosnya juga lebih mahal. Sementara itu, bahan bakar minyak bagi nelayan pun juga dipenuhi dari Malaysia. ”Kami kan tak bisa membeli BBM dengan gelen (jeriken) di SPBU di darat, masak kami harus bawa perahu kami ke darat,” kata Fahri, nelayan Sebatik, sebagaimana dikutip dari Tempointeraktif.com, Selasa (9/6). Menurutnya para nelayan sampai sekarang membeli bensin dan solar dari Tawau. Harganya, 1 ringgit 80 sen atau lebih dari Rp 3.000 dengan kurs 1 Ringgit Malaysia (RM) = Rp 3.000. Diakuinya harga bensin dari negara tetangga itu lebih mahal jika dibanding dengan harga bensin di Indonesia. Namun, keterbatasan akses membuat mereka memilih membeli ke Malaysia. Kesulitan memperoleh bahan bakar di Sebatik juga diungkapkan Bella, nelayan asal Kampung Tanjung Aru. Menurutnya SPBU satu-satunya di Sebatik itu lebih mementingkan kebutuhan bensin kendaraan darat, seperti sepeda motor dan mobil. Harga per liter bensin di SPBU Rp 5.500. ”Kadang juga sering kehabisan,” ujarnya. Minimnya perhatian Pemerintah Indonesia terhadap pembangunan infrastruktur menjadi salah satu sebab mengapa warga Sebatik tergantung dengan Malaysia. Sebenarnya, potensi pertanian dan kelautan diwilayah ini cukup lumayan. Di sektor Pertanian, biji kakao dari Sebatik setiap pekan, selalu dikirim ke Batu Lima, Tawau, Malaysia. Begitu pula dengan kelapa sawit. Bila dijual ke Tarakan, warga khawatir barang sudah busuk sampai tujuan, karena jarak yang jauh. Sebatik hingga kini juga tak memiliki pelabuhan yang representatif. Yang ada, Pelabuhan Sungai Nyamuk, yang hanya bisa disandari kapal kecil dari Tarakan. ”Kalau ada pelabuhan misalnya, kan bisa pasokan sembako dari Jawa itu masuk, sekarang kan tak ada,” kata Herman. Ketergantungan terhadap Malaysia inilah yang membuat mereka tak ingin ada perang antara Indonesia-Malaysia. Haji Konong pemilik kapal angkutan barang Sebatik-Tawau misalnya, ia merasa telah nyaman meski bergantung terhadap Malaysia. Tokoh Masyarakat Sebatik, H Herman atau yang dikenal H Andeng menyatakan Pemerintah Indonesia seharusnya bisa menyelesaikan sengketa ini dengan segera tanpa perang. Karena jika permasalahan ini berlarut-larut warga Sebatik tentunya semakin khawatir. ”Jangankan perang. Kalau Tawau itu mengembargo atau menolak warga Sebatik ke sana, kan yang rugi rakyat juga. Makanya cepatlah menyelesaikan masalah Ambalat ini, supaya tak berdampak pada masalah lain yang merugikan warga Sebatik,” tambah Herman. Kondisi Sebatik: 1. Kebutuhan pokok sehari-hari dipasok dari Tawau, Malaysia 2. Tidak memiliki pelabuhan yang representatif, padahal potensi hasil perikanan cukup tinggi. 3. Untuk menjual hasil bumi tak didukung dengan infrastruktur memadai. Akses ke Tarakan tak mendukung. Mengakibatkan biaya perjalanan lebih mahal dan memakan waktu, dibanding menjual hasil bumi ke Tawau, Malaysia. Solopos,Kamis, 11 Juni 2009
Hiburan dan Informasi
Categories
- guneman (4)
- Hotspot (1)
- musik (8)
- news (9)
- religi (3)
Blog Archive
-
▼
2009
(18)
-
▼
Juni
(9)
- Pengenalan
- Sebatik di tengah ancaman perang Diabaikan Indones...
- DPR siap setujui perang di Ambalat
- KPI Minta "Curhat Bareng Anjasmara" Dihentikan
- UMS rintis pengelolaan jurnal internasional
- 33 SMA di Indonesia 100 persen siswanya tak lulus UN
- PEMBUKAAN TMMD KE – 82 DI SRAGEN
- BERMIGRASILAH KE OPEN SOURCE, SEKARANG
- Informasi
-
▼
Juni
(9)
Pengikut
Links
20.45
Sebatik di tengah ancaman perang Diabaikan Indonesia, warga nyaman bergantung ke Malaysia
Ingkang Nulis asepzo
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 Guneman:
Posting Komentar